Jumat, 02 Maret 2012

senggol bacok


Pendukung klub PSIS Semarang yang dikenal dengan sebutan Snex, menyayangkan aksi pelemparan batu oleh sekelompok orang tidak dikenal terhadap pendukung Persijap Jepara yang akan memberikan dukungan kepada timnya saat bertanding melawan Persija Jakarta.

"Saya benar-benar menyayangkan insiden itu, mereka adalah oknum-oknum yang mengatasnamakan suporter, padahal kalau suporter asli tidak seperti itu," kata Ketua Umum Snex Edy Purwanto di Semarang, Sabtu.

"Saya sendiri kaget kenapa bisa terjadi insiden tersebut, padahal kita sekarang berada di Divisi Utama sedangkan mereka di Liga Super, kenapa bisa tahu jadwal mereka untuk mendukung timnya yang akan bertanding," kata Edy Purwanto yang juga anggota Komisi C DPRD Kota Semarang tersebut.

Menurut dia, ia sudah menjalin komunikasi yang baik dengan suporter Persijap Jepara, baik Jetmen maupun Banaspati, bahkan setelah kejadian tersebut, ia juga berhubungan dengan mereka. Bahkan, mereka juga minta pengawalan saat suporter yang kini berada di Jakarta saat mereka pulang ke Jepara.

Menurut dia, pengurus Snex sudah melupakan perseteruan antara suporter PSIS dengan Persijap yang bermula dari kejadian kerusuhan antarsuporter kedua tim di Stadion Kamal Junaidi Jepara 12 Maret 2006 lalu. Ia menambahkan, ia sangat mendukung tindakan polisi yang mengamankan beberapa pelaku insiden tersebut.

"Kalau sudah memasuki ranah tindak kriminal, saya sangat mendukung upaya kepolisian," katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, empat bus yang mengangkut suporter Persijap Jepara menuju Jakarta, Jumat (29/1) malam, sekitar pukul 22.30 WIB dirusak puluhan orang tak dikenal dengan cara dilempari batu saat melintas di Jalan Siliwangi Semarang.

Slamet Teguh Leksono (26), salah seorang suporter Persijap Jepara yang menderita luka pada bagian kepala, mengatakan bahwa ia ingin mendukung tim kesayangan bertanding dengan Persija Jakarta pada esok hari. Ia bersama ratusan pendukung lainnya menyewa tujuh bus.

Tujuh bus yang disewa pendukung tersebut adalah empat bus PO Gembira Ria, dua bus PO Yudha Ekspres, dan satu bus PO Gamping Surono.

"Saat bus melintas di Jalan Arteri Yos Sudarso Semarang, kaca bis bagian belakang yang saya tumpangi dilempar batu hingga pecah oleh dua orang yang mengendarai sepeda," katanya.

Ia menjelaskan, puncak perusakan bis terjadi di Jalan Siliwangi Semarang, tepatnya beberapa ratus meter setelah gerbang tol Krapyak arah ke barat.

"Ketika berada di lokasi perusakan, tiba-tiba massa yang tidak dikenal langsung melempari bus dengan menggunakan batu berukuran cukup besar," katanya.

Sekitar 100 orang lebih yang tidak dikenal, kata dia, langsung melempari bus dengan membabi buta hingga semua kaca bus pecah. Setelah kaca pecah berantakan, beberapa orang yang merusak tersebut kemudian masuk ke dalam bus untuk menganiaya serta melakukan perampasan terhadap barang-barang berharga yang dibawa para suporter Persijap Jepara yang menamakan dirinya Banaspati.

"Beberapa orang yang naik ke bus lalu meminta paksa uang serta telepon seluler, dan jika tidak diberikan mereka tidak segan-segan memukul dengan tangan kosong, bahkan batu bata yang telah dipersiapkan sebelumnya," ujar Slamet yang menderita luka di bagian pelipis kanan.

Ia menyebutkan, dari mulut para perusak bus yang memaksa naik ke bus tercium bau minuman keras yang cukup menyengat. Akibat kejadian tersebut, empat bus PO Gembira Ria mengalami kerusakan parah terutama pada kaca bus yang pecah berantakan termasuk interior bis.

Puluhan suporter yang berada di dalam bus dan menderita luka-luka karena terkena lemparan batu serta dianiaya dengan cara dipukuli beramai-ramai segera dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tugurejo Semarang untuk mendapat perawatan lebih lanjut.